Sabtu, 01 Desember 2018

10,BE&GG,Dyah Ruth Wulandari,Hapzi Ali,Etika & Bisnis,Ethical Dilemmas, Universitas Mercu Buana,2018

Business Ethics & Good Governance
Ethical Dilemmas, Sources & Their Resolutions






Dosen: Prof. Dr. Ir. Hapzi Ali, MM, CMA


Disusun oleh:
Dyah Ruth Wulandari
55117120098



Program Magister Management
2018



A. Pendahuluan

“Etika bisnis secara singkat dapat didefinisikan sebagai studi sistematis masalah etika yang berkaitan dengan bisnis, industri atau kegiatan terkait, lembaga dan keyakinan. Etika bisnis adalah penanganan sistematis dari nilai-nilai dalam bisnis dan industri. ”—John Donaldson
Etika adalah sesuatu yang meresap dalam kehidupan kita yang mendukung setiap pilihan yang kita buat. Itu adalah perasaan tidak nyaman ketika kita diminta untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai kita. Biasanya, dilema terjadi ketika  memiliki ketegangan antara dua prinsip yang bersaing, seperti kejujuran dan kesetiaan kepada teman atau ketika sebuah keputusan mengarah pada beberapa hasil buruk, seperti tidak dapat dihindari merugikan atau merugikan dua orang yang berbeda. Ada beberapa domain dilema etika yang dapat muncul dalam kehidupan profesional adalah mempertahankan standar profesional. 
Dilema etika umum lainnya berasal dari konflik kepentingan sehingga harus menerapkan obyektifitas dan ketidakberpihakan dalam semua pekerjaan, tetapi pasti membangun hubungan dengan banyak klien. Dilema mengenai kerahasiaan dimana tidak hanya dapat mengetahui informasi sensitif yang dapat membantu atau merugikan orang lain, tetapi ada tekanan komersial yang meningkat untuk menggunakan data pribadi dalam situasi yang tidak dimaksudkan untuk digunakan. 
Dengan struktur dan sistem yang berkualitas dapat diciptakan lingkungan kerja yang etis. Bila lingkungan kerja sudah beretika, maka perilaku etis secara otomatis menjadi kekuatan yang memperkaya proses bisnis. Perilaku etis mampu menyerap nilai-nilai positif, dan menjadikannya sebagai etos kerja (Hapzi Ali, 2018).
Komitmen yang kuat untuk etika dapat mengarah pada retensi karyawan yang lebih baik, produktivitas yang lebih besar, reputasi yang lebih baik dengan klien dan pelanggan, dan hubungan yang lebih positif dengan vendor. Dan beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumen akan membayar lebih untuk produk yang mereka tahu diproduksi secara etis. Memiliki kode etik bisnis dikatakan sebagai salah satu ciri dari perusahaan yang dikelola dengan baik (Tim Dean, 2018).

B. Dilema Etik Dalam Bisnis

Etika bisnis harus mempertimbangkan faktor-faktor berikut:
Sebuah bisnis harus bertujuan untuk berurusan secara adil dengan semua orang yang berurusan dengannya.
Etika harus ditetapkan untuk setiap orang dalam organisasi dan penerapannya harus dikaitkan dengan sistem penghargaan hukuman.
Setiap pelanggaran etika harus dideteksi sesegera mungkin dan tindakan perbaikan segera diambil.
Etika bisnis harus didasarkan pada pedoman luas tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari.
Etika harus didasarkan pada persepsi tentang apa yang benar.

Pentingnya Etika Bisnis:
Sesuai dengan Kebutuhan Dasar Manusia: bahwa mereka ingin menjadi bagian dari organisasi yang dapat mereka hormati dan banggakan, karena mereka menganggapnya etis.
Kredibilitas di Publik: Nilai etika suatu organisasi menciptakan kredibilitas di mata publik.  
Kredibilitas dengan Karyawan: Ketika karyawan yakin akan nilai-nilai etis dari organisasi tempat mereka bekerja, mereka memegang teguh organisasi. Ini menciptakan tujuan bersama, nilai dan bahasa. 
Pembuatan Keputusan yang Lebih Baik:
Penghormatan terhadap etika akan memaksa manajemen untuk mempertimbangkan berbagai aspek ekonomi, sosial, dan etika saat mengambil keputusan untuk kepentingan publik, karyawan, dan kepentingan jangka panjang perusahaan sendiri.
Profitabilitas:Menjadi etis bukan berarti tidak menghasilkan keuntungan apa pun. Perusahaan-perusahaan etis pasti akan berhasil dan lebih menguntungkan dalam jangka Panjang.
Perlindungan Masyarakat: Etika dapat melindungi masyarakat dengan cara yang lebih baik daripada sistem hukum negara (Kushboo Shinha, 2018)

C. Pengertian Dilema Etika

Dilema etika merupakan suatu keadaan dimana seseorang harus membuat keputusan tentang perilaku seperti apa yang tepat akan dilakukannya. 

Menurut Arens dan Loebbecke (1995: 74) yang dimaksud dengan dilema etika adalah situasi yang dihadapi seseorang dimana keputusan mengenai perilaku yang pantas harus dibuat.

Dilema etika dikenal sebagai dilema moral , adalah situasi di mana ada pilihan yang harus dibuat antara dua opsi, yang keduanya tidak menyelesaikan situasi dengan cara yang dapat diterima secara etis. Dilema etika beranggapan bahwa pemilih akan mematuhi norma-norma kemasyarakatan, seperti kode hukum atau ajaran agama, untuk membuat pilihan secara etis menjadi tidak mungkin (Yourdictionary). 
Dilema etika atau paradoks etis adalah masalah pengambilan keputusan antara dua kemungkinan moral yang mungkin, yang keduanya tidak dapat diterima atau lebih disukai. Kerumitan muncul dari konflik situasional di mana menaati satu akan mengakibatkan melanggarnya yang lain. Dilema etika adalah masalah pengambilan keputusan antara dua kemungkinan moral yang mungkin, yang keduanya tidak dapat diterima atau lebih disukai. Kadang-kadang disebut paradoks etis dalam filsafat moral (Wikipedia). 
Ada beberapa alternatif pemecahan dilema etika, tetapi harus berhati-hati untuk menghindari cara yang merupakan rasionalisasi perilaku pendekatan sederhana untuk memecahkan dilemma etika:
Memperoleh fakta-fakta yang relevan.
Mengidentifikasi issue-issue etika dari fakta-fakta yang ada.
Menentukan siapa dan bagaimana orang atau kelompok yang dipengaruhi oleh dilema.
Mengidentifikasi alternatif yang tersedia bagi orang yang harus memecahkan dilema.
Mengidentifikasi konsekuensi yang mungkin timbul dari setiap alternatif.
Memutuskan tindakan yang tepat untuk dilakukan (Wikipedia).

a. Egoism
Menurut teori ini hanya ada satu prinsip perilaku yang utama, yakni prinsip kepentingan diri, dan prinsip ini merangkum semua tugas dan kewajiban alami seseorang (Rachels 2004: 146)

b. Utilitarism
Dikemukakan oleh David Hume. Dalam teori ini suatu perbuatan atau tindakan dapat dikatakan baik jika dapat menghasilkan manfaat untuk sekelompok orang atau sekelompok masyarakat.

c. Deontology
Berasal dari bahasa Yunani deon, yang berarti kewajiban. Etika deontologi memberikan pedoman moral agar manusia melakukan apa yang menjadi kewajiban sesuai dengan nilai-nilai atau norma-norma yang ada. Suatu perilaku akan dinilai baik atau buruk berdasarkan kewajiban yang mengacu pada nilai-nilai atau norma-norma moral. Etika deontologi tidak membahas apa akibat atau konsekuensi dari suatu perilaku. Suatu perilaku dibenarkan bukan karena perilaku itu berakibat baik, tetapi perilaku itu memang baik dan perilaku itu didasarkan kewajiban yang memang harus dilaksanakan.

d. Virtue Etics (Teori Keutamaan)
Didefinisikan sebagai cara pikir seseorang yang memungkinkan dia untuk bertindak baik secara moral. Teori ini cenderung memandang sikap atau akhlak seseorang.

Dilema etis terjadi ketika kita dihadapkan dengan masalah atau masalah yang mengharuskan kita membuat keputusan yang sulit, kita menghadapi dilema. Keputusan mungkin sulit karena setidaknya ada dua nilai bersaing yang terpaksa kita pilih. Untuk menyelesaikan dilema etika, kita harus menyadari nilai apa yang kita anggap penting. 
Nilai adalah kompas yang memandu kita dalam segala hal yang kita lakukan; mereka mewakili apa yang kita yakini dan kita pedulikan. 

D. Sumber Nilai Etika Dalam Komunitas

 Empat hal yang dipandang sebagai sumber nilai-nilai etika dalam komunitas yaitu:
Agama
Bermula dari buku Max Weber The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism (1904-5) menjadi tegak awal keyakinan orang adanya hubungan erat antara ajaran agama dan etika kerja atau anatara penerapan ajaran agama dengan pembangunan ekonomi. Agama mengabarkan perlunya sistem sosial yang tertib dan tanggung jawab sosial dengan tujuan untuk berkontribusi pada kesejahteraan umum. Dengan dasar-dasar ini, setiap agama menciptakan kode etiknya sendiri.

Prinsip-prinsip nilai-nilai dasar etika yang ada dalam agama yaitu :
Keadilan : Kejujuran, mempergunakan kekuatan untuk menjaga kebenaran.
Saling menghormati : Cinta dan perhatian terhadap orang lain
Pelayanan : Manusia hanya pelayan, pengawa, sumber-sumber alam
Kejujuran : Kejujuran dan sikap dapat dipercaya dalam semua hubungan manusia, dan integritas yang kuat.

Filosofi
Ajaran ini sangat komplek yang menjadi tradisi klasik yang bersumber dari berbagai pemikiran para fisuf-filsuf saat ini. Di Negara barat, ajaran filosofi yang paling berkembang dimulai ketika zaman Yunani kuno pada abd ke 7 diantaranya Socrates (470 Sm-399 SM) yang  percaya bahwa manusia ada untuk suatu tujuan, dan bahwa salah dan benar memainkan peranan yang penting dalam mendefinisikan hubungan seseorang dengan lingkungan dan sesamanya. Socretes percaya bahwa kebaikan berasal dari pengetahuan diri, dan bahwa manusia pada dasarnya adalah jujur, dan bahwa kejahatan merupakan suatu upaya akibat salah pengarahan yang membebani kondisi seseorang. 

Pengalaman & Perkembangan Budaya
Budaya: seperangkat nilai dasar, ide, persepsi, preferensi, konsep moralitas, kode etik yang dimiliki oleh anggota komunitas yang menciptakan kekhasan di antara kelompok, berfungsi sebagai mekanisme pembuatan dan kontrol rasa yang memandu dan membentuk sikap dan perilaku orang. Setiap transisi budaya antara satu generasi ke genefasi berikutnya mewujutkan nilai-nilai, aturan baru serta standar yang kemudian akan diterima dalam komunitas tersebut, selanjutnya akan terwujud dalam perilaku. 

Hukum
Hukum adalah perangkat aturan-aturan yang dibuat oleh pemerintah dalam rangka untuk menjamin kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Hukum menentukan ekspektasi-ekspektasi etika yang diharapkan dalam komunitas dan mencoba mengatur serta mendorong para perbaikan-perbaikan masalah-masalah yang dipandang buruk atau tidak baik dalam komunitas. 
Para umumnya para pebisnis akan lebih banyak menggunakan perangkat hukum sebagai cermin etika mereka dalam melaksanakan aktivitasnya.  Pelanggaran hukum dalam bisnis adalah contoh umum seperti penghindaran pajak, penimbunan, pemalsuan, kualitas rendah & produk dengan harga tinggi, pencemaran lingkungan dll.

Boatright (2003) menyebutkan ada beberapa alasan yang bias menjelaskan hal ini.
Hukum tidaklah cukup untuk mengatur semua aspek aktivitas dalam bisnis sebab tidak semua yang tak bermoral adalah tidak legal. 
Hukum selalu dibuat setelah pelanggaran terjadi, sehinga kita bias menyebut bahwa hukum selalu lambat dikembangkan dibandingkan segala masalah-masalah etika yang timbul.
Terkadang hukum / undang-undang selalu menerapkan konsep-konsep moral yang tidak mudah untuk didefinisikan sehingga menjadi sangat sulit pada suatu ketika untuk memahami undang-undang tanpa mempertimbangkan masalah-masalah moral.
Hukum sering tidak pasti. Walaupun suatu kejadian atau aktivitas dianggap legal, serta hukum/undang-undang haruslah diputuskan melalui pengadilan dan dalam membuat keputusan, pengadilan selalu mengacu pada pertimbangan-pertimbangan moral. 
Hukum kadang tidak bisa diandalkan, apalagi jika bisnis itu berada pada suatu wilayah atau dari daerah yang tingkat penegakan hukumnya sangat rendah (Hapzi Ali, 2018).

E. Memecahkan Dilema Etis

Panduan etika bisnis perusahaan sebagai standar serta kode etik perilaku sebagai cara untuk bertindak dan bersikap tetap  berada didalam kekuatan normatif, padahal etika bisnis membutuhkan perilaku etis untuk membuat keputusan dan tindakan etis secara teratur. Diperlukan kerangka berpikir dan logika yang tepat, untuk mempengaruhi orang-orang agar mereka secara sukarela menjalankan perilaku etis di setiap situasi dan keadaan bisnis (Hapzi Ali, 2018).


Kerangka kerja mengatasi dilema etik mencakup: 
Tentukan apakah ada masalah etika dan / atau dilema. Apakah ada konflik nilai, atau hak, atau tanggung jawab profesional
Identifikasi nilai-nilai dan prinsip-prinsip kunci yang terlibat. Arti dan batasan apa yang biasanya melekat pada nilai-nilai yang bersaing ini
Berikan peringkat pada nilai-nilai atau prinsip-prinsip etika yang paling relevan dengan masalah atau dilema
Kembangkan rencana aksi yang konsisten dengan prioritas etis yang telah ditentukan sebagai pusat dilemma tentang potensi risiko dan konsekuensi dari tindakan alternatif atau membenarkan rencana tindakan dengan nilai/ prinsip yang menjadi landasan rencana
Terapkan rencana dengan memanfaatkan keterampilan dan kompetensi praktik yang paling tepat 
Renungkan hasil dari proses pengambilan keputusan etis ini. 

Sebagai perbandingan, Evans dan MacMillan (2014) telah mengembangkan kerangka untuk membuat pengambilan keputusan etis yang efisien dan praktis: 
Tetapkan fakta-fakta seputar dilema etika
Fakta penting untuk menjaga informasi yang salah dan bias kognitif
Tentukan kewajiban dan kewajiban hukum 
Kewajiban profesional dan legal akan memungkinkan kita untuk dengan mudah memutuskan suatu tindakan yang diambil dalam dilema etika. 
Penting untuk mengetahui siapa yang akan terkena dampak dari tindakan yang kita putuskan
Tentukan nilai etis
Penting untuk memungkinkan kita memahami apa yang benar-benar dipertaruhkan
Pertimbangkan teori etika normatif s dapat membantu dalam menentukan konsekuensi tindakan, atau tugas yang mungkin wajib ikuti yang jatuh di luar hukum, aturan, dan prosedur 
Pertimbangkan opsi yang secara etis terdengar
Mempertimbangkan sisi positif dan negatif dari keputusan, risiko dan manfaat yang terkait dengan setiap opsi dengan nilai-nilai ini.
Pertimbangan kemungkinan hasil negatif dan positif dari setiap opsi yang memungkinkan (Steve & Rick, 2018).

Perilaku baik dengan nilai moral yang tinggi pasti menjadi alat untuk mengatasi dilema etika. Dilema etika dapat diatasi dengan kepatuhan untuk memenuhi standar kerja sesuai panduan etika bisnis. Tempat etika bukanlah di pikiran dan emosi, tetapi di dalam hati nurani yang bermoral tinggi

F. Membedakan Moral dari Etika dalam Pengambilan Keputusan

Etika bukanlah sesuatu untuk ditafsirkan tetapi untuk dipatuhi dengan penuh tanggung jawab. Hanya orang-orang yang fokus pada kepatuhan yang mampu memiliki perilaku etis, sedangkan yang fokus pada kemajuan selalu memiliki perilaku yang disesuaikan dengan kebutuhan dari kemajuan tersebut. Jadi, mereka yang fokus pada kemajuan suka mengabaikan etika, dan perilakunya tergantung dengan situasi (Hapzi Ali, 2018).
Ada pengakuan yang jelas bahwa pada akhirnya pilihan pribadi harus dibuat sehubungan dengan perilaku yang benar, tetapi etika bisnis akan memberikan kerangka penilaian untuk perilaku yang benar dalam organisasi bisnis.

Berikut adalah beberapa kriteria yang dapat membantu memastikan pertimbangan etika yang tepat adalah bagian dari keputusan yang dibuat dalam organisasi:
Kepatuhan - Apakah sesuai dengan nilai-nilai dan kode etik perusahaan & persyaratan hukum
Mempromosikan yang baik dan mengurangi bahaya – mencari solusi yang terbaik & meminimalkan bahaya
Tanggung jawab - Alternatif apa yang menyediakan respons yang paling bertanggung jawab
Menghormati dan menjaga hak - Apakah opsi berdampak negatif terhadap hak individu atau organisasi
Mempromosikan kepercayaan - Apakah solusi mengarah pada komunikasi yang jujur dan  pengungkapan penuh
Membangun reputasi - Apakah informasi utama keputusan menghasilkan kebanggaan atau rasa malu
Kapan waktu terbaik untuk membahas moral pribadi versus etika organisasi
 Jika seseorang siap untuk bergabung dengan perusahaan atau bisnis, penting bahwa dia disajikan dengan nilai-nilai inti perusahaan dan kode etik (jika tersedia). Calon anggota baru kemudian harus menentukan apakah mungkin untuk merekonsiliasi pilihan moral mereka dengan etika organisasi sebagaimana yang disampaikan dalam nilai-nilai dan kode etik perusahaan. Kesepakatan untuk bergabung dengan perusahaan secara implisit mengasumsikan bahwa rekonsiliasi ini telah terjadi, tetapi dapat dibuat eksplisit dengan mewajibkan persetujuan terhadap kode etik (Decision Inovation, 2018).

Dengan pemahaman yang seharusnya ada antara perusahaan dan individu, perubahan terhadap nilai-nilai dan kode etik perusahaan harus diberikan pertimbangan yang cermat.

Pedoman untuk Memfasilitasi Solusi untuk Dilema Etis dalam Praktik Profesional
Tentukan fakta dalam situasi agar tidak bias
Tentukan para pemangku kepentingan, atau mereka yang memiliki kepentingan dalam hasil.
Menilai motivasi para pemangku kepentingan dengan menggunakan teknik komunikasi yang efektif dan penilaian kepribadian.
Merumuskan solusi alternatif berdasarkan informasi paling lengkap yang tersedia, menggunakan nilai-nilai inti etika dasar sebagai panduan.
Evaluasi alternatif yang diusulkan: solusi etis daftar pendek saja; dapat menjadi pilihan potensial antara / di antara dua atau lebih solusi etis.
Cari bantuan tambahan, sebagaimana mestinya. 
Pilih tindakan terbaik, yang memenuhi nilai-nilai etika inti tertinggi.
Menerapkan solusi yang dipilih, dan mengambil tindakan sebagaimana diperjanjikan.
Pantau dan kaji hasilnya. Selalu perhatikan bagaimana meningkatkannya di lain waktu (Texas Tech Univ 2017).
Menurut Rushworth Kidder dalam dilema etis pilihan terberat adalah benar versus benar. Mereka adalah dilema asli karena masing-masing pihak berakar kuat pada salah satu nilai inti. Empat dilema semacam itu sangat umum berdiri sebagai model, pola atau paradigma:
Kebenaran versus kesetiaan
Individu versus masyarakat
Jangka pendek versus jangka panjang
Keadilan versus belas kasihan

Perbedaan terpenting antara masalah etis dan dilema etis adalah ketika seseorang menemukan dirinya dalam dilema etis, dia ingin melakukan hal yang benar tetapi tidak tahu apa itu atau tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya,tetapi untuk masalah etis,individu bisa melakukan hal yang benar jika mereka ingin melakukan dan memiliki niat.

G. Fitur Pelengkap Dilemma Etika

Dilema etis sangat spesifik dan memiliki beberapa fitur yaitu:
Hasil yang tidak pasti: Orang tidak dapat memastikan akibatnya dari pilihan etika.
Beberapa pilihan dan alternatif seperti isu etis di mana ini hanya dua pilihan ‘ya’ atau ‘tidak’ di sini dalam dilema etika, situasi adalah pembuat keputusan yang berbeda menemukan lebih dari dua alternatif yang harus dipertimbangkan.
Konsekuensi campuran dilema etis dan masalah dalam manajemen saat dipecahkan saling bertentangan satu sama lain. Satu keputusan dianggap menguntungkan oleh satu pihak namun tidak menguntungkan pihak lain.
Keterlibatan langsung atau tidak langsung apa yang akan terjadi pada situasi tertentu di mana orang menghadapi dilema etis, satu sisi satu orang terlibat langsung dan di sisi lain yang lain hanya meninjau dari jarak jauh dan tidak terlibat secara langsung, keputusan etis yang jelas lebih sulit dilakukan.
Merupakan kepercayaan umum bahwa keputusan etis mengurangi keuntungan ekonomi perusahaan, jadi para eksekutif terkadang memilih jalan menjaga diri di sisi yang lebih aman. Jadi untuk menyimpulkan kita mengatakan bahwa dilema etika sangat kompleks.Pemilihan salah satu pilihan di antara beberapa cukup sulit dan juga berisiko (amsliaafiani, 2017).

H. Contoh Kasus Dilema Etis
Khairiansyah Salman, mantan auditor Badan Pemeriksa Keuangan dianggap sebagai whistleblower karena mengungkap kebobrokan di tubuh Komisi Pemilihan Umum. Lantaran itu pula, Khairiansyah dianugerahi penghargaan internasional Integrity Award dari Transparency International di Berlin, Jerman. Anugerah itu memang diberikan kepada individu yang dianggap berani dan berjasa mengungkap kasus-kasus korupsi. Khairiansyah memang sangat berperan dalam membongkar kasus korupsi KPU. Teknik pembongkaran kasus ini juga terbilang unik. Khairiansyah dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjebak salah satu anggota KPU, Mulyana W. Kusumah di sebuah kamar hotel dengan dilengkapi alat-alat perekam audio visual.Dari rekaman itu terungkap, Mulyana berusaha menyuap Khairiansyah yang saat itu menjabat Ketua Sub Tim Pemeriksaan Kotak Suara BPK, sebesar Rp 150 juta. 
Bermula dari Mulyana kasus ini kemudian menyeret Ketua KPU Nazaruddin Sjamsuddin. Hanya dua pekan memegang penghargaan Integrity Award, angin kemudian berbalik arah. Khairiansyah ditetapkan Kejaksaan Agung sebagai tersangka kasus korupsi Dana Abadi Umat (DAU) di Departemen Agama. Khairiansyah dan tiga auditor BPK lainnya yang merupakan satu tim dalam mengaudit kinerja Depag diduga ikut menikmati dana abadi umat hampir Rp 40 juta untuk ongkos transportasi. Setelah kasus ini mencuat, Khairiansyah mengembalikan dana Rp 39 juta lebih itu ke Departemen Agama. 
Kasus Khairiansyah boleh jadi akan menjadi preseden penting dalam penegakan hukum di masa depan. Di satu sisi seseorang berani mengungkapkan dan bersaksi atas kejahatan yang dia ketahui namun di sisi berbeda dia juga harus dijadikan tersangka karena ikut terlibat dalam kasus serupa. Dia membenarkan telah menerima dana itu. Uang itu, sepengetahuan Khairiansyah adalah dana tambahan untuk biaya transportasi kegiatan auditor BPK di Depag. Ini juga merupakan permintaan dari Depag sendiri kepada BPK.  Khairiansyah sendiri adalah bagian dari institusi BPK yang melaksanakan tugas audit tadi. Menurutnya hubungan kerja antarinstitusi dalam melakukan sebuah kegiatan adalah hal yang sudah biasa. Dan itu, biasanya ada dana-dana yang bertalian dengan aktivitas tersebut yang dibebankan kepada institusi tersendiri.  Meski begitu Khairiansyah tidak menolak ada beberapa auditor yang menerima uang seperti itu. Khairiansyah menyebut angka puluhan juta rupiah, uang yang biasa diterima para auditor. 
Khairiansyah membenarkan dirinya adalah whistleblower, namun dia tak membantah telah menerima uang itu. Semua itu ada argumentasi dasar dan landasannya yang secara yuridis materi-materinya akan dikemukakan tim pembela. Banyak pihak mengatakan, kasus ini bukan perkara antara dirinya dengan Depag, tetapi masalah besar antara orang-orang yang berada di belakang masalah pemberantasan korupsi dan orang yang menentangnya. Meski mengaku sudah menerima uang itu, Khairiansyah tetap menolak telah melakukan tindak korupsi. Dia lebih menyukai sangkaan itu diserahkan kepada proses hukum yang benar-benar adil, sesuai dengan prosedur disertai bukti-bukti yang ada. Khairiansyah pun menyangkal menerima uang tersebut tanpa memperhitungkan hati nuraninya. Dalam pandangan hukum, kasus yang menimpa Khairiansyah, 
Menurut Prof. Dr.Indriyanto Seno Aji, SH, Guru Besar Pasca Sarjana Universitas Indonesia Bidang Studi Ilmu Hukum, sangat dilematis. Di satu sisi peran Khairiansyah sebagai whistleblower dimaksudkan dalam rangka pemberantasan korupsi. Tapi, dalam kasus lain, dia kini menjadi tersangka. Jika dilihat dari sisi penegakan hukum, prinsip whistleblower menurut KPK sudah tereliminasi. Persoalannya adalah norma legalisasi yang mengatur tentang whistleblower selama ini memang belum ada. Posisi whistleblower memang sangat diharapkan untuk membantu mengungkap kejahatan besar. Namun, perannya itu tidak berlaku untuk semua hal. Posisinya bisa diberikan perlindungan dengan catatan sejauh mana jasa atau kesaksiannya dalam kasus tertentu. Menurut Seno Aji untuk kasus DAU, perlindungan tidak bisa diberikan kepada Khairiansyah. 
Pandangan yang sama juga diutarakan Koordinator Indonesia Corruption Watch bahwa masalah whistleblower biasanya dikaitkan dengan upaya perlindungan karena jasanya telah mengungkap kasus korupsi. Peran whistleblower sangat penting terutama untuk mengungkap kasus kejahatan yang sulit pembuktiannya sehingga diperlukan seorang pelaku dari dalam yang bisa membongkar dan menangkap pelaku-pelaku besar. Perlindungan ini diberikan sebagai reward kepada whistleblower atas kesaksiannya membantu jaksa atau penuntut di pengadilan membongkar praktik korupsi (Ian, 2005).




Sumber:
Hapzi Ali, 2018, Bahan Ajar Materi ke-11, Etka & Bisnis, Universitas Mercu Buana (22 November 20018, Pukul 17:30 WIB)
Ian, 2005, https://www.liputan6.com/news/read/113407/iwhistlebloweri-itu-sudah-tereliminasi (22vember 2018, Pukul 18:01 WIB)
Tim Dean, 2018, https://www.acuitymag.com/business/how-to-handle-an-ethical-dilemma (22 November 2018, 18:45 WIB)
KhusbooShina, 2018, http://www.yourarticlelibrary.com/business/ethics/business-ethics-meaning-sources-and-importance/64095 (22 November 2018, Pukul 19:22 WIB)
https://examples.yourdictionary.com/ethical-dilemma-examples.html (22 November 2018, Pukul 19:36 WIB)
https://en.wikipedia.org/wiki/Ethical_dilemma (22 November 2018, Pukul 19:51 WIB)
Steve & Rick, 2018, https://opentextbc.ca/ethicsinlawenforcement/chapter/3-3-solving-ethical-dilemmas/(22 November 2018, Pukul 22:21 WIB)

Anonym-1, https://www.decision-making-solutions.com/ethics_in_decision_making.html (22 November 2018, Pukul 22:25 WIB)
Anonym-2, Texas Tech University, 2p17 http://www.depts.ttu.edu/murdoughcenter/products/resources/guidelines-for-facilitating-solutions.php (22 November 2018, Pukul 22:47 WIB)
Amalia, 2017, https://amaliaafiani.wordpress.com/2017/05/08/bab-7-dilemma-etis-dalam-organisasi/(22 November 2018, Pukul 22:54 WIB)

























Tidak ada komentar:

Posting Komentar